Rumput, Gulma dan tanaman liar sering kali membuat petani kewalahan. Keberadaanya dianggap sebagai pengganggu tanaman budidaya atau merusak pemandangan di halaman rumah , pinggir sawah , di tepi jalan dan tempat – tempat strategis lainnya sehingga keberadaanya wajib dibasmi terutama sekali dengan menggunakan herbisida baik kontak maupun sistemik. Pola ini tanpa sadar sangat merugikan kita semua termasuk petani yang mengangap rumput adalah musuh, padahal justru sebaliknya tanaman liar sangat bermanfaat untuk dijadikan pupuk alami alias bisa dijadikan “kawan”.
Lalu
bagaimana rerumputan dan tanaman liar yang merupakan tanaman pengganngu bisa bermanfaat sebagai
pengganti pupuk kimia?. Jawabannya adalah dengan mengolah rerumputan dan tanaman liar tersebut menjadi
elisitor yang dikenal dengan nama Bio saka.
Bio saka sendiri diartikan sebagai “ Bio = Tumbuhan Ragam hayati “ dan Saka merupakan
singkatan dari Selamatkan alam Kembali ke alam”. Praktek Di lapangan
menunjukkan penggunaan Bio saka pada tanaman pertanian mampu mengantikan pupuk
kimia hingga 25 -50%, mengurangi hama
dan bisa digunakan sebagai antisipasi perubahan cuaca ekstrim.
Bio Saka ( Sumber Gambar Agronet )
Tidak disangka rumput dan tumbuhan liar bisa sangat bermanfaat dan pemanfaatan nya jadi biosaka didasari oleh beberap hal, yaitu : Pertama, dari hasil pengamatan rumput dan tanaman liar yang tumbuh di sekitar lahan pertanian selalu tumbuh dengan mudah dan subur meskipun berada diluar media tanam dan tanpa dipupuk. Begitu juga di luar areal lahan pertanian seperti tempat-tempat ekstrim seperti pinggir-pinggir jalan yang kering dan berbatu, di tembok, dipegunungan batu dengan sedikit media tanah, tanah dengan PH rendah atau asam, Tanah rawa dan air genangan sepanjang tahun, Rumput dan tanaman liar terus bertumbuh dengan sumbur tanpa menunjukkan gejala kekurangan Nutrisi. Bahkan yang paling aneh ada Tanaman buah pohon yang tumbuh dipinggir jalan dan selalu berbuah lebat saat musim buah dan tanpa dipupuk.

Rumput Liar bisa dijadikan bahan Untuk Pembuatan Bio Saka ( sumber Gambar; Dok Pribadi )
Melihat kondisi ini sudah barang tentu Rumput dan Tanaman liar memiliki keistimewaan sendiri dimana dapat tumbuh subur pada kondisi ekstrim dan dapat berbuah tanpa dipupuk sehingga cocok dijadikan Elisitor untuk Bio saka. Menyangkut pembuatan Bio saka dapat dijelaskan sebagai berikut, pertama pemilihan rumput / tanaman yang sehat bebas dari penyakit dan hama ( sempurna standar Bio Saka ) di sekitar sawah / lahan pertanian minimal 5 jenis atau lebih tanaman yang berbeda ( lebih banyak ragam jenis tanaman untuk bahan lebih baik )
Kedua, Rumput / tanaman disortasi lagi dan dipilih yang benar-benar sehat. Ketiga, Sediakan air bersih dalam ember kira-kira 5 liter atau legih dan segenngam rumput / tanaman sehat. Keempat, Rumput /tanaman dimasukkan kedalam ember dan diremas-remas dengan perasaan sampai air berwarna sinergi (menyatu ) dan tidak keluar lagi sari dari rumput / tanaman. Peremasan akhir bisa dirasakan seperti kesat, dingain seperti orang meremas santan kelapa yang sudah tidak lagi keluar air santannya ). Apabila hal tersebut dirasakan kemungkinan sudah tidak adal lagi perubahan reaksi atau sudah menyatu ( Homogen ).
Perlu diingat, selama meremas-remas tidak boleh berhenti,
atau istirahat atau diganti orang lain (proses kimiawi ) selama belum
menghasilkan warna harmonis ( kelihatan kental tetapi tidak kental ) dan benar-benar
merata dan sinergi ( menyatu ). Kelima,
lakukan penyaringan larutan dengan saringan halus dan larutan hasil saringan
dimasukkan kedalam botol untuk kemudian disimpan. Bio saka bisa dikatakan jadi apabila
keesokan harinnya larutan tidak mengendap dan tidak mengandung Gas.
Pembuatan Bio Saka ( sumber Gambar : Dok Pribadi )
Bio saka yang sudah jadi dapat diaplikasikan ke tanaman padi dan jagung dengan frekuensi penyemprotan sebanyak 7 kali pada satu musim tanam. Untuk padi penyemprotan dilakukan pada 8, 15, 22, 32,42,52 dan 62 HST ( hari setelah tanam ) sedangkan untuk tanaman jagung Bio saka disemprotkan pada saat 8,18,28,38,48,58 dan 68 HST.
Mengenai Dosis penyemprotan untuk tanaman padi dan jagung , 40 Ml Bio saka dicampur dengan 15 Liter air ( tank Sprayer ) dan disemprotkan ke tanaman dengan cara penyemprotan berupa kabut disekitar pematang dan mengikuti arah angin. Penyemprotan seperti kabut ini dilakukan dengan cara menyetel Nozel semprot terlebih dahuu. Setelah menyemprot tidak boleh diulang-ulang hanya satu kali semprot diatas tanaman. Disemprot 4-6 tangki per hektar dan 7 kali semusim.
Nah cukup mudah dan praktis bukan? membuat Bio saka dari Rumput dan tumbuhan liar. Dengan biosaka ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia subsidi dan non subsidi asalkan petani mau mengerjakannya. Jangan biarkan rumput dan tanaman liar menjadi tanaman pengganggu namun jadikan rumput sebagai kawan yang memberikan banyak manfaat dan jangan jadikan rumput dan tanaman liar sebagai lawan yang selalu disemprot dengan pestisida. Apalagi penggunaan herbisida telah terbukti mencemari laingkungan. Nah anda tertarik mebuat Bio saka silahkan mencoba!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar