Alat panen padi modern yang lebih dikenal dengan combine harvester benar-benar mampu mengoptimalkan panen dan pasca panen padi. Petani tidak perlu lagi repot-repot memanen padi secara manual menggunakan arit atau sabit. Petani juga idak perlu lagi melaksanakan proses panen dan pasca panen semisal merontok, membumbo atau mengipas dengan menggunakan alat sederhana yang membutuhkan waktu lama. Dengan combine harvesters, semua proses itu bisa dihilangkan. Memanen menggunakan combine, petani bisa langsung memanen padi hingga langsung dimasukkan ke dalam karung. Petani dapat langsung mengangkut gabah pulang ke rumah atau langsung menjualnya pada pedagang.
| Alat Panen Padi : Combine Harvester |
Upah memanen padi menggunakan combine pun tergolong terjangkau, yaitu Rp. 550,- per kg gabah. Sementara, panen menggunakan tenaga manusia, dalam hal ini buruh tani , biaya per kg gabah yaitu Rp 750,- per kg. Belum lagi waktu yang digunakan. Mmulai dari proses penyabitan gabah hingga perontokan dan pengipasan serta pengarungan, jauh lebih lama dibandingkan jika menggunakan combine harvester. Dengan kata lain, pemakaian combaine harvester lebih efisien dari segi biaya dan waktu.
Jika ditinjau lebih jauh, satu unit combine harvester dalam keadaan normal mampu memanen padi di sawah seluas tiga Ha per hari. Pendapatan bersih setelah dikeluarkan biaya operasional untuk combine Rp1 juta dan pengelola Rp500 ribu. Sedangkan biaya operasional untuk BBM dan operator berkisar Rp 3 juta per hari.
Sebaliknya, perlu diingat pemanfaatan combine juga memiliki kekurangan, yaitu hilangnya mata pencaharian buruh tani di lokasi dimana combine beraksi. Untuk diketahui dalam hal menyabit padi di sawah seluas satu ha diperlukan tenaga kerja manusia sebanyak delapan orang per hari atau sampai selesai.
| Combine Harvester sedang memanen padi |
Belum lagi tenaga untuk merontok, membumbo dan mengarungi gabah yang jumlahnya cukup fantastis berkurang dengan pengoperasian combine ini. Kemudian pemanfaatan combine akan efektif pada sawah dengan petakan luas. Ssedangkan untuk sawah dengan petakan sempit, combine kurang efektif. Di sisi lain, nilai minus semakin terlihat ketika combine beroperasi. Banyak butir padi hampa atau setengan berisi terlempar keluar sewaktu combine beroperasi. Akibatnya, beberapa saat setelah panen, butir padi yang tidak sempurna bulirnya dan terlempar keluar tadi akan tumbuh di sawah.
Ini kerugian bagi petani karena diperlukan cost untuk menyiangi padi yang tumbuh ( sebagai gulma ) tersebut sebelum periode tanam berikutnya dimulai.Walaupun demikian kemajuan tenologi itu harus, apalagi sistem pertanian saat ini fokus utamanya adalah meningkatkan produksi plus bonus efisiensi waktu, biaya serta tenaga. Combine Harvester ini salah satu solusinya. Pro kontra pemanfaatan combine pasti terjadi di masyarakat. Namun mengingat manfaat yang diperoleh lebih besar dibanding kerugiannya, maka sudah selayaknya combine didukung pengoperasiannya di areal persawahan. Hal ini dalam rangka proses panen dan pasca panen padi yang bermuara pada meningkatnya pendapatan petani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar